BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam pembelajaran matematika
sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal.
Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu
mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa
tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk
menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu
saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk
pembelajaran yang lain.
Pembelajaran tersebut adalah
pembelajaran tutor sebaya.Sisi lain yang menjadikan matematika dianggap siswa
pelajaran yang sulit adalah bahasa yang digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu
siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru.Oleh
karena itu,dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan bagaimana pembelajaran
teman sebaya itu sebagai sumber belajar.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah
ini sebagai berikut :
1.
Apa yang
dimaksud dengan pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar?
2.
Bagaimana
hakekat penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar?
3. Apa Kriteria
penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar
4.
Apa kelebihan
dan kekurangan Penggunaan teman sebagai sumber belajar?
5.
Bagaimana
contoh penggunan teman sebaya sebagai sumber belajar?
C.
Tujuan
penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas,maka adapun tujuan dari penulisan ini
adalah untuk :
1. Dapat menjelaskan pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar.
2. Dapat menjelaskan hakekat penggunaan teman sebaya sebagai sumber
belajar.
3. Dapat mengetahui kriteria pengunaan teman sebaya sebagai sumber
belajar.
4. Dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan teman sebagai sumber
belajar.
5. Dapat mengetahui contoh penggunan teman sebaya sebagai sumber
belajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
PENGAJARAN
TEMAN SEBAYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR
A. Pengertian
Pengajaran Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar.
Inti dari
metode pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran yang pelaksanaannya dengan
membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, yang sumber belajarnya bukan hanya
guru melainkan juga teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai suatu
materi tertentu. Dalam pembelajaran ini, siswa yang menjadi tutor hendaknya mempunyai
kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada
saat dia memberikan bimbingan ia sudah dapat menguasai bahan yang akan
disampaikan. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil sangat cocok
digunakan dalam pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar dikelas dan siswa menjadi terampil dan berani mengemukakan pendapatnya
dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil
dapat meningkatkan hasil belajar siswa dimana semua siswa aktif, siswa sangat
antusias dalam melaksanakan tugas, semua perwakilan kelompok berani mengerjakan
tugas didepan kelas, siswa berani bertanya dan respon siswa yang diajar sangat
tinggi.
Penerapan
metode belajar mahasiswa aktif yang bervariasi dan pelaksanaan tutorial, serta
adanya system evaluasi yang konsisten cukup efektif digunakan dalam perkuliahan
yang ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajar
mahasiswa. Pelaksanaan tutorial teman sebaya dapat membantu mahasiswa dalam
mengatasi kesulitan belajar terutama dalam mengerjakan soal-soal latihan.
Penerapan model pembelajaran tutor sebaya telah terbukti efektif dalam
meningkatkan hasil belajar siswa yang terbukti signifikan dimana peningkatan
tersebut terlihat dalam setiap siklus belajar. Keunggulan model pembelajaran
tutor sebaya juga ditunjukkan oleh ketuntasan belajar siswa yang mengalami
peningkatan.
Peer
tutoring dan peer assessment merupakan solusi termudah dan solusi
dalam menghadapi kendala-kendala dalam pembelajaran komputer terutama
disekolah-sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana memadai, tenaga
pengajar yang kurang, jumlah siswa dikelas yang sangat besar, dan dana yang terbatas.
Pembelajaran dengan memanfaatkan peer tutoring dan peer assessment ternyata
mampu mengoptimalkan pembelajaran komputer, yang pada akhirnya mampu
meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan tuntutan kompetensi sekarang ini.[1]
Metode belajar
yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu,
pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan
sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya
(Suyitno. 2004). Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber
belajar dapat orang lain selain guru, melainkan teman dari kelas yang lebih
tinggi, teman sekelas atau keluarganya dirumah. Sumber belajar bukan guru dan
dan berasal dari orang lain yang lebih pandai disebut tutor. Ada dua macam
tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya
yang lebih pandai. Ada dua macam tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor
kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai.[2]
Tutor sebaya
adalah seseorang atau beberapa oramg siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai
pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dengan system
pembelajaran menggunakan tutor sebaya akan membantu siswa yang nilainya dibawah
KKM atau kurang cepat menerima pelajaran dari guru diantara mata pelajaran.
Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan
sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan bertanya kepadanya. Tutor
dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima
program perbaikan. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap
social kawan. Tutor mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan
bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawan. Model tutorial
merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk
modul untuk dipelajari siswa secara mandiri.
Tutor
berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar yang cara mengajarnya telah
disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menghidupkan suasana kompetitif,
setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh
karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor
sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari
materi ajar yang disajikan.
Hamalik
(1991:73) (dalam Abi Masiku (2003:10)) mengemukakan bahwa tutorial adalah
bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk,
arahan, dan motivasi agar siswa dapat efisien dan efektif dalam belajar.
Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan
dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru
atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan
ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Pengajaran
tutoring merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa dan
satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang
tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor (Winkel,
1996:401).
Secara singkat
pengertian tutor dapat diartikan sebagai orang yang memberikan tutorial atau
tutoring, sedangkan tutorial atau tutoring adalah bimbingan yang dapat berupa
bantuan, petunjuk, arahan ataupun motivasi baik secara individu maupun kelompok
dengan tujuan agar siswa dapat lebih efisien dan efektif dalam kegiatan
pembelajaran sehingga tujuan dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat
tercapai dengan baik.
Dalam Kamus
Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta (Tim
Perumus, 2008:150) dijelaskan bahwa baya adalah umur, berumur
atau tua, sedang sebaya adalah sama umurnya (tuanya),
atau hampir sama (kekayaannya, kepandaiannya,
dsb), seimbang atau sejajar. Pengertian lain sebaya menurut
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah hampir sama; (Trisno Yuwono dan Pius
Abdullah, 1994:367). Dalam kamus konseling (Sudarsono,1997:31), teman sebaya
berarti teman-teman yang sesuai dan sejenis, perkumpulan atau kelompok
prapuberteit yang mempunyai sifat- sifat tertentu dan terdiri dari satu jenis.
Menurut Ali (2004:99) Kelompok teman sebaya memegang peranan penting dalam
kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai anggota
kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karenanya,
mereka cenderung bertingkah laku seperti tingkah laku kelompok sebayanya.
Interaksi
antara teman membuat anak mulai berfikir terhadap pola tingkah laku yang
berlaku dalam kebudayaan tertentu, yang sering dilakukan. Dengan demikian,
interaksi ini cenderung untuk mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang
dipakai untuk pergaulan yang berlaku. Interaksi antara kawan itu menyebakan
tersedianya contoh yang lebih representatif tentang apa yang boleh dilakukan
dalam kebudayaan itu dibanding dengan yang tersedia di rumah.
Tidaklah dipungkiri bahwa metode
belajar yang diajarkan oleh guru itu dapat menjadikan wadah pembelajaran bagi
para siswa. Namun pada dasarnya kemampuan para sswa itu dapat diperoleh dari
beajarnya sendiri di rumah bukan melulu fasilitas dari guru. Namun tidak jarang
pula bahkan banya kita temui anak yang cepat tangap dalam pemahaman pelajaran,
namun nilai yang didapatnya kurang memuaskan. Hal ini mungkin diakibatkan kurangnya
waktu belajar di rumah.
Dari
sini seorang guru dapat menentukan model belajar yang tepat dengan memanfaatkan
keheterogenan siswa di kelas. Pemilihan pembelajaran tutor sebaya dapat menjai
pilihan sebagai salah satu langkah awal dan memanfaatkan keheterogenen dalam
kelas.
Pengertian tutor menurut beberapa ahli :
1. Tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa
orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami
kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih
tinggi. (Dedi Supriyadi)
2. Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang
telah tuntas terhadap bahanpelajaran memberikan bantuan kepada siswa yang
mengalami kesulitan dan memahami bantuanpelajaran yang dipelajarinya. (Ishak)[3]
Pengajaran
teman sebaya sebagai sumber belajar atau disebut dengan Tutor Sebaya merupakan sumber
belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan
bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Prosedur
penyelenggaraan tutor sebaya ada 3 macam yaitu:
Student to tutor, Group to tutor, Student to student.
Beberapa hal yang ditekankan dalam
pembelajaran tutor sebaya,yaitu:
1)
Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi
pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan
pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti
dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.
2)
Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga
belajar dari pengalamannya. Hal ini
membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung
jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”,
peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan,
berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna.
3)
Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan
kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya
tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk bertanya ataupun
minta bantuan
Jadi
tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru
sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam persiapan ini antara
lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap
sebagai teman sebaya, mencari perannya sendiri dengan mengembangkan kecakapan
intelektual dan konsep-konsep yang penting, mendapatkan tingkah laku yang
bertanggung jawab secara sosial.
B.
Hakekat Penggunaan Teman Sebaya
Sebagai Sumber Belajar
Tutor sebaya dikenal
dengan pembelajaran teman sebaya atau antar siswa. Hal ini bisa terjadi ketika
siswa yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu
siswa yang kurang mampu. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai
sebuah tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan
dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar
sekolah.
Beberapa keunggulan
dari model pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran, antara
lain :
1.
siswa tidak terlalu tergantung pada
guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri,
menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2.
siswa dapat mengembangkan kemampuan
mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan
membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.
membantu siswa untuk respek pada orang
lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.
membantu memberdayakan setiap siswa
untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.
merupakan suatu strategi yang cukup
ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk
mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang
lain, mengembangkan keterampilan memanagement waktu, dan sikap positif terhadap
sekolah.
6.
dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat
berpraktik memecahkan masalah tanpa rasa takut membuat kesalahan, karena
keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.
meningkatkan kemampuan siswa menggunakan
informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8.
interaksi selama kooperatif berlangsung
dapat meningkatkan motivasi dan memberikan ransangan untuk berpikir. [4]
Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka
panjang ( Sanjaya, 2007 : 247 – 248).
Proses
pembelajaran seharusnya menempatkan siswa sebagai subyek yang mempunyai potensi
dasar masing-masing yang dapat berkembang bukan sebagai obyek yang hanya dapat
dibentuk semau pendidik. Mereka membutuhkan dorongan eksternasl untuk
menumbuhkembangkan potensi internal siswa. Setiap pendidik harus memiliki
pemahaman bahwa semua siswa memiliki kelebihan atau potensi yang bervareasi
untuk berhasil. Jadi keberhasilan itu merupakan sebuah permata yang dapat
menjadi milik semua orang. Keanekaragaman potensi atau kemampuan yang dimiliki
siswa dalam memahami sebuah konsep sering menimbulkan masalah, antara lain
kadang ada siswa yang sangat cepat memahami dan ada yang merasakan kesulitan
tetapi merekan segan bahkan merasa takut untuk bertanya kepada guru, apa lagi
kalau guru tersebut kurang menyenangkan.
Kesulitan yang dialami oleh sekelompok siswa tersebut
dapat diatasi dengan cara melibatkan teman sebayanya dalam pembelajaran atau
guru menerapkan model pembelajaran tutor
sebaya. Strategi belajar dengan tutor sebaya adalah melakukan strategi belajar
secara dini dalam upaya mengantisipasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa
agar tidak berdampak lebih jauh terhadap pengaruh yang cukup signifikan
terhadap kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi yang seharusnya dicapai dan
berdampak terhadap prestasi belajar siswa, salah satu model pembelajaran yang
diduga mampu membuat suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan serta
dapat membantu kesulitan belajar siswa adalah model pembelajaran tutor sebaya.
Melalui model pembelajaran ini, siswa secara terbuka dan interaktif di bawah
bimbingan guru, sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang
disajikan sesuai standar.
Hakikat partisipasi siswa dalam model pembelajaran
tutor sebaya dalam kelompok-kelompok kecil memerlukan peran aktif dari para
siswa sebagai subyek ajar bukan sebagai obyek ajar, dengan demikian proses
pembelajaran akan berlangsung efektif dan bermakna. Kondisi ini pada akhirnya
akan meningkatkan pemahaman peserta didik yang bermakna meningkatkan prestasi belajar. Berbicara tentang
aktivitas atau partisipasi siswa dalam pembelajaran, Trianto(2007) mengatakan
bahwa guru tidak dibenarkan mengelola tingkah laku siswa dalam kelompok secara
ketat, dan siswa memiliki ruang dan peluang untuk secara bebas mengendalikan
aktivitas-aktivitas dalam kelompoknya.Secara bebas itu bermakna merdeka dalam
berkativitas di pembelajaran. Bedasarkan prinsip Student centered, peserta
didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar Kondisi ini dikenal dengan
istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yang merupakan terjemahan dari student
active training, yang memiliki makna bahwa proses pembelajaran akan lebih
berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan langsung dan
relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
C.
Kriteria Penggunaan Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
Penggunaan teman sebaya tidaklah
asal-asalan. Kita tidak bisa memilih tutor sebaya sesuka hati kita. Seorang
tutor sebaya harus memiliki kriteria untuk menunjang hasil yang sesuai dengan
harapan. Tutor sebaya hendaknya memiliki nilai diatas rata-rata teman sebayanya
dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam
belajar.
Kriteria
penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar menurut Moh. Surya, ada 4
kriteria, yaitu:
1)
Tutor membantu murid/siswa yang kesulitan berdasarkan
petunjuk guru
2)
Murid/siswa yang dipilih sebagai tutor hendaknya
diperhatikan segi kemampuan dalam penguasaan materi dan kemampuan membantu
orang lain
3)
Dalam pelaksanaannya, tutor-tutor ini dapat membantu
teman-temannya baik secara individual maupun secara kelompok sesuai petunjuk
guru
4)
Tutor dapat berperan sebagai pemimpin dalam
kegiatan-kegiatan kelompok, dalam hal tertentu dia dapat berperan sebagai
pengganti guru.
Sedangkan dalam bukunya, Arikunto (1986: 62)
mengemukakan bahwa dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1)
Tutor dapat
diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa
tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
2)
Tutor dapat
menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program
perbaikan.
3)
Tutor tidak
tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
4)
Tutor mempunyai
daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan
pelajaran kepada kawannya. [5]
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan untuk
menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan pertimbangan-pertimbangan
sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut.
a.
Memiliki kepandaian diatas rata-rata
dibandingkan siswa lain
b.
Memiliki kecakapan dalam menerima
pelajaran yang disampaikan oleh guru.
c.
Mempunyai
kesadaran untuk membantu teman lain.
d.
Dapat diterima dan disenangi siswa yang
mendapat program tutor sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau
enggan untuk bertanya kepadanya.
e.
Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati
terhadap sesama kawan.
f.
Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk
memberikan bimbingan yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Dalam
penggunaan teman sebaya sebagai teman belajar, tidak lepas dari langkah- langkah dalam menerapkan pembelajaran
tutor belajar. Adapun langkah-langkah, sebagai
berikut:
1)
Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat
dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi
(segmen materi).
2)
Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil
yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa
pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.
3)
Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu
sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
4)
Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di
dalam kelas maupun di luar kelas.
5)
Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub
materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara
sumber utama.
6)
Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan
sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada
pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
D.
Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Teman Sebaya
Sebagai Sumber Belajar
Pengajaran tutor sebaya ini dapat
dipandang sebagai reaksi terhadap pengajaran klasikal dengan kelas yang
terlampau besar dan padat sehingga guru atau tenaga pengajar tak dapat
memberikan bantuan individual, bahkan sering tidak mengenal para pelajar
seorang demi seorang. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa para siswa
menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang
menggunakan proses belajar-mengajar yang sama bagi semua siswa tidak akan
sesuai bagi kebutuhan dan kepribadian setiap siswa. Maka karena itu perlu
dicari sistem pengajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi
sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi pengajaran
tutor sebaya.
Dalam penggunaan tutor sebaya tidaklah selalu memiliki
kelebihan. Penggunaan tutor sebaya ini memiliki kekurangan juga. Agar kita bisa
memahami lebih jauh mengenai kekurangan dan kelebihan tutor sebaya mariah simak
tulisan berikut.
Adapun kelebihan dan kekurangan penggunaan teman
sebaya sebagai sumber belajar sebagai berikut:
1.
Kelebihan penggunaan teman sebaya sebagai sumber
belajar.
a) Meringankan
beban guru dalam membelajarkan siswa, terutama bagi guru yang menghadapi kelas
gemuk/banyak
b) Memberikan
dampak pengayaan pada siswa yang menjadi tutornya
c) Komunikasi
antar siswa akan lebih efektif terutama dalam mengatasi beberapa kelemahan guru
terutama dalam hubungan komunikasi dengan siswa
d) Bagi tutor
sendiri sebagai kegiatan remedial yang merupakan kesempatan untuk pengayaan
dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar
e) Bersifat
efisien, artinya bisa lebih banyak siswa dibantu
f) Dapat
meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.
2.
Kekurangan penggunaan teman sebaya sebagai sumber
belajar.
a) Siswa yang
menjadi tutor berpotensi tidak memiliki keahlian membelajarkan
b) Kelas
berpotensi riuh dan tidak terkendali
c) Guru
berpotensi mengabaikan siswa karna terlalu mengandalkan tutor
d) Akan
berpotensi pada perlakuan yang diskriminatif dimana pada keadaan tertentu
justru sangat merugikan bagi efektifitas pembelajaran.
Dengan
mengetahui kekurangan serta kelebihan dalam proses pembelajaran tutor sebaya,
kita bisa menimbang- nimbang baik buruknya tutor sebaya tersebut. Sehingga
dalam penerapannya di kelas bisa lebih efektif dan menghasilkan siswa yang
berkelas dan paham akan materi yang disampakan. Siswapun akan mendapatkan
pemahaman yang lebih karena dijelaskan oleh temannya sendiri sehingga mereka
bebas bertanya pada tutor mereka masing- masing.
E.
Penggunaan Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
Penggunaan
teman sebaya dalam pembelajaran KBM di sekolah memanglah memiliki kelebihan dan
kekurangan. Namun telah kita ketahui bersama jika kelebihan penggunaan teman
sebaya ini lebih banyak daripada kekurangannya.
Langkah-langkah
model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil ini adalah sebagai
berikut.
1.
Pilihlah materi yang memungkinkan materi tersebut
dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pelajaran di bagi menjadi sub-sub
materi (segmen materi).
2.
Bagilah siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang
heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa
pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.
3.
Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu
bab materi. Setiap kelompok di pandu oleh siswa yang pandai sebagai tutor
sebaya.
4.
Beri mereka waktu yang cukup, baik di dalam kelas
maupun di luar kelas.
5.
Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub
materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara
sumber utama.
6.
Setelah kelompok menyampaikan tugasnya secara
berurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi
seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
Selain hal
di atas, berikut ini kita sajikan beberapa tips agar model pembelajaran tutor
sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, antara lain adalah:
1)
Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai
2)
Jelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas).
Misalnya : agar pelajaran matematika
dapat mudah dipahami
3)
Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai
4)
Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru
5)
Gunakan cara yang praktis
6)
Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan
dilakukan tutor
7)
Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan
tutor
8)
Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang
terjadi melalui tutor sebaya
9)
Jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan uraian
sebelumnya,maka penulis dapat menyimpulkan bahwa tutor sebaya adalah salah satu
sumber belajar yang efektif selain guru. Penerapan model pembelajaran tutor
sebaya dinilai sangat efektif untuk diterapkan dalam upaya meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar siswa.Hal
ini disebabkan karena pembelajaran tutor sebaya lebih menekankan pada pemenuhan
kebutuhan,baik kebutuhan peserta didik maupun kebutuhan tutor sebaya itu
sendiri.Dimana ketika sekelompok siswa mengalami kesulitan dalam
belajarnya,maka hal ini dapat diatasi dengan cara melibatkan teman
sebayanya,begitupan sebaliknya,tutor sebaya dapat memperkuat apa yang
dipelajarinya dengan membantu temannya yang mengalami kesulitan tersebut.
B.
Saran
Semoga tugas
makalah ini dapat diteruskan kepada generasi yang akan datang,
karena banyak manfaat yang didapat
selain mahasiswa dapat belajar mandiri dalam menyusun makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. “Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik” Edisi Revisi VI, Jakarta: Rineka Cipta
Suherman, E dkk. 2003. “Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer”. Bandung. UPI
Sanjana Wijana.2006.Strategi Pembelajaran Berorientasi standar
dan Proses Pendidikan.Bandung:Prenda
Media Grup.
Suriyono.1992.Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA.Jakarta:PT.Rineka
Cipta
Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar Proses Pembelajaran
Matematika. Bahan Ajar, S1 Program Studi Pendidikan Matematika. Semarang :
UNNES
http://aldymohamad.blogspot.com/2012/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkah.html
(Diaksespada tanggal 22 Maret 2015).
http://baliteacher.blogspot.com/2010/02/pembelajaran-dengan-methode-tutor-teman.htm (Diaksespada tanggal 16 Maret 2015).
http://tutor_sebaya/2012/01/sandy.blogspot.com.htm (diakses pada tgl 20 Maret 2015)
[1] Arikunto.S, Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta:
Rineka Cipta,2006), halmn.98.
[2]
Suherman, E dkk. 2003. “Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer”.
Bandung. UPI
[3]
Laelasar, M.Pd, Dasar-Dasar dan Proses
Pembelajaran Matematika,(Jakarta:Rineka Cipta, 2005), hlm.18
[4]
Sanjaya, Hakikat Belajar dan
Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Putra,2007)hlm.247-248
[5]
Arikunto.S, Op.Cit., halmn.105
Maaf mbak, tlg dong di upload suyitno, amin.2004.dasar-dasar proses pembelajaran matematika 1.Semarang:jurusan matematika FMIPA UNNEs
BalasHapusMaaf mbak, tlg dong di upload suyitno, amin.2004.dasar-dasar proses pembelajaran matematika 1.Semarang:jurusan matematika FMIPA UNNEs
BalasHapus