Rabu, 13 Mei 2015

pembelajaran teman sebaya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Dalam pembelajaran matematika sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk pembelajaran yang lain.
      Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya.Sisi lain yang menjadikan matematika dianggap siswa pelajaran yang sulit adalah bahasa yang digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru.Oleh karena itu,dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan bagaimana pembelajaran teman sebaya itu sebagai sumber belajar.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar?
2.      Bagaimana hakekat penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar?
3.      Apa Kriteria penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar
4.      Apa kelebihan dan kekurangan Penggunaan teman sebagai sumber belajar?
5.      Bagaimana contoh penggunan teman sebaya sebagai sumber belajar?


C.    Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas,maka adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk :
1.      Dapat menjelaskan pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar.
2.      Dapat menjelaskan hakekat penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar.
3.      Dapat mengetahui kriteria pengunaan teman sebaya sebagai sumber belajar.
4.      Dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan teman sebagai sumber belajar.
5.      Dapat mengetahui contoh penggunan teman sebaya sebagai sumber belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGAJARAN TEMAN SEBAYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR
A.    Pengertian Pengajaran Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar.
Inti dari metode pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran yang pelaksanaannya dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, yang sumber belajarnya bukan hanya guru melainkan juga teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai suatu materi tertentu. Dalam pembelajaran ini, siswa yang menjadi tutor hendaknya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada saat dia memberikan bimbingan ia sudah dapat menguasai bahan yang akan disampaikan. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil sangat cocok digunakan dalam pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dikelas dan siswa menjadi terampil dan berani mengemukakan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil dapat meningkatkan hasil belajar siswa dimana semua siswa aktif, siswa sangat antusias dalam melaksanakan tugas, semua perwakilan kelompok berani mengerjakan tugas didepan kelas, siswa berani bertanya dan respon siswa yang diajar sangat tinggi.
Penerapan metode belajar mahasiswa aktif yang bervariasi dan pelaksanaan tutorial, serta adanya system evaluasi yang konsisten cukup efektif digunakan dalam perkuliahan yang ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Pelaksanaan tutorial teman sebaya dapat membantu mahasiswa dalam mengatasi kesulitan belajar terutama dalam mengerjakan soal-soal latihan. Penerapan model pembelajaran tutor sebaya telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang terbukti signifikan dimana peningkatan tersebut terlihat dalam setiap siklus belajar. Keunggulan model pembelajaran tutor sebaya juga ditunjukkan oleh ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan.

Peer tutoring dan peer assessment merupakan solusi termudah dan solusi dalam menghadapi kendala-kendala dalam pembelajaran komputer terutama disekolah-sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana memadai, tenaga pengajar yang kurang, jumlah siswa dikelas yang sangat besar, dan dana yang terbatas. Pembelajaran dengan memanfaatkan peer tutoring dan peer assessment ternyata mampu mengoptimalkan pembelajaran komputer, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan tuntutan kompetensi sekarang ini.[1]
Metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya (Suyitno. 2004). Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber belajar dapat orang lain selain guru, melainkan teman dari kelas yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarganya dirumah. Sumber belajar bukan guru dan dan berasal dari orang lain yang lebih pandai disebut tutor. Ada dua macam tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai. Ada dua macam tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai.[2]
Tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa oramg siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dengan system pembelajaran menggunakan tutor sebaya akan membantu siswa yang nilainya dibawah KKM atau kurang cepat menerima pelajaran dari guru diantara mata pelajaran. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan bertanya kepadanya. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap social kawan. Tutor mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawan. Model tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri.
Tutor berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar yang cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan.
Hamalik (1991:73) (dalam Abi Masiku (2003:10)) mengemukakan bahwa tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar siswa dapat efisien dan efektif dalam belajar.
 Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Pengajaran tutoring merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa dan satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor (Winkel, 1996:401).
Secara singkat pengertian tutor dapat diartikan sebagai orang yang memberikan tutorial atau tutoring, sedangkan tutorial atau tutoring adalah bimbingan yang dapat berupa bantuan, petunjuk, arahan ataupun motivasi baik secara individu maupun kelompok dengan tujuan agar siswa dapat lebih efisien dan efektif dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta (Tim Perumus, 2008:150) dijelaskan bahwa  baya adalah umur, berumur atau tua, sedang sebaya adalah sama umurnya (tuanya), atau hampir sama (kekayaannya, kepandaiannya, dsb), seimbang atau sejajar. Pengertian lain sebaya menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah hampir sama; (Trisno Yuwono dan Pius Abdullah, 1994:367). Dalam kamus konseling (Sudarsono,1997:31), teman sebaya berarti teman-teman yang sesuai dan sejenis, perkumpulan atau kelompok prapuberteit yang mempunyai sifat- sifat tertentu dan terdiri dari satu jenis. Menurut Ali (2004:99) Kelompok teman sebaya memegang peranan penting dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai anggota kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karenanya, mereka cenderung bertingkah laku seperti tingkah laku kelompok sebayanya.
Interaksi antara teman membuat anak mulai berfikir terhadap pola tingkah laku yang berlaku dalam kebudayaan tertentu, yang sering dilakukan. Dengan demikian, interaksi ini cenderung untuk mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang dipakai untuk pergaulan yang berlaku. Interaksi antara kawan itu menyebakan tersedianya contoh yang lebih representatif tentang apa yang boleh dilakukan dalam kebudayaan itu dibanding dengan yang tersedia di rumah.
            Tidaklah dipungkiri bahwa metode belajar yang diajarkan oleh guru itu dapat menjadikan wadah pembelajaran bagi para siswa. Namun pada dasarnya kemampuan para sswa itu dapat diperoleh dari beajarnya sendiri di rumah bukan melulu fasilitas dari guru. Namun tidak jarang pula bahkan banya kita temui anak yang cepat tangap dalam pemahaman pelajaran, namun nilai yang didapatnya kurang memuaskan. Hal ini mungkin diakibatkan kurangnya waktu belajar di rumah.
Dari sini seorang guru dapat menentukan model belajar yang tepat dengan memanfaatkan keheterogenan siswa di kelas. Pemilihan pembelajaran tutor sebaya dapat menjai pilihan sebagai salah satu langkah awal dan memanfaatkan keheterogenen dalam kelas.
Pengertian tutor menurut beberapa ahli :
1.    Tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi. (Dedi Supriyadi)
2.    Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahanpelajaran memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dan memahami bantuanpelajaran yang dipelajarinya. (Ishak)[3]
Pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar atau disebut dengan Tutor Sebaya merupakan sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai  memberikan  bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Prosedur penyelenggaraan tutor sebaya ada 3 macam yaitu:  Student to tutor, Group to tutor, Student to student.
Beberapa hal yang ditekankan dalam pembelajaran tutor sebaya,yaitu:
1)      Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.
2)      Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya.  Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna.
3)      Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan
            Jadi tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam persiapan ini antara lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap sebagai teman sebaya, mencari perannya sendiri dengan mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep yang penting, mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.


B.     Hakekat Penggunaan Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar siswa. Hal ini bisa terjadi ketika siswa yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu siswa yang kurang mampu. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah.
Beberapa keunggulan dari model pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran, antara lain :
1.      siswa tidak terlalu tergantung pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2.      siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.      membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.      membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.      merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan memanagement waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
6.      dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa rasa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.      meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8.      interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan ransangan untuk berpikir. [4]
Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang ( Sanjaya, 2007 : 247 – 248).
Proses pembelajaran seharusnya menempatkan siswa sebagai subyek yang mempunyai potensi dasar masing-masing yang dapat berkembang bukan sebagai obyek yang hanya dapat dibentuk semau pendidik. Mereka membutuhkan dorongan eksternasl untuk menumbuhkembangkan potensi internal siswa. Setiap pendidik harus memiliki pemahaman bahwa semua siswa memiliki kelebihan atau potensi yang bervareasi untuk berhasil. Jadi keberhasilan itu merupakan sebuah permata yang dapat menjadi milik semua orang. Keanekaragaman potensi atau kemampuan yang dimiliki siswa dalam memahami sebuah konsep sering menimbulkan masalah, antara lain kadang ada siswa yang sangat cepat memahami dan ada yang merasakan kesulitan tetapi merekan segan bahkan merasa takut untuk bertanya kepada guru, apa lagi kalau guru tersebut kurang menyenangkan.
Kesulitan yang dialami oleh sekelompok siswa tersebut dapat diatasi dengan cara melibatkan teman sebayanya dalam pembelajaran atau guru menerapkan model  pembelajaran tutor sebaya. Strategi belajar dengan tutor sebaya adalah melakukan strategi belajar secara dini dalam upaya mengantisipasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa agar tidak berdampak lebih jauh terhadap pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi yang seharusnya dicapai dan berdampak terhadap prestasi belajar siswa, salah satu model pembelajaran yang diduga mampu membuat suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan serta dapat membantu kesulitan belajar siswa adalah model pembelajaran tutor sebaya. Melalui model pembelajaran ini, siswa secara terbuka dan interaktif di bawah bimbingan guru, sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan sesuai standar.
Hakikat partisipasi siswa dalam model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok-kelompok kecil memerlukan peran aktif dari para siswa sebagai subyek ajar bukan sebagai obyek ajar, dengan demikian proses pembelajaran akan berlangsung efektif dan bermakna. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan pemahaman peserta didik yang bermakna  meningkatkan prestasi belajar. Berbicara tentang aktivitas atau partisipasi siswa dalam pembelajaran, Trianto(2007) mengatakan bahwa guru tidak dibenarkan mengelola tingkah laku siswa dalam kelompok secara ketat, dan siswa memiliki ruang dan peluang untuk secara bebas mengendalikan aktivitas-aktivitas dalam kelompoknya.Secara bebas itu bermakna merdeka dalam berkativitas di pembelajaran. Bedasarkan prinsip Student centered, peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar Kondisi ini dikenal dengan istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yang merupakan terjemahan dari student active training, yang memiliki makna bahwa proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.



C.    Kriteria Penggunaan Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
            Penggunaan teman sebaya tidaklah asal-asalan. Kita tidak bisa memilih tutor sebaya sesuka hati kita. Seorang tutor sebaya harus memiliki kriteria untuk menunjang hasil yang sesuai dengan harapan. Tutor sebaya hendaknya memiliki nilai diatas rata-rata teman sebayanya dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.
Kriteria penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar menurut Moh. Surya, ada 4 kriteria, yaitu:
1)      Tutor membantu murid/siswa yang kesulitan berdasarkan petunjuk guru
2)      Murid/siswa yang dipilih sebagai tutor hendaknya diperhatikan segi kemampuan dalam penguasaan materi dan kemampuan membantu orang lain
3)      Dalam pelaksanaannya, tutor-tutor ini dapat membantu teman-temannya baik secara individual maupun secara kelompok sesuai petunjuk guru
4)      Tutor dapat berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan kelompok, dalam hal tertentu dia dapat berperan sebagai pengganti guru.
Sedangkan dalam bukunya, Arikunto (1986: 62) mengemukakan bahwa dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
2)      Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan.
3)      Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
4)      Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya. [5]

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan pertimbangan-pertimbangan sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut.
a.         Memiliki kepandaian diatas rata-rata dibandingkan siswa lain
b.         Memiliki kecakapan dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru.
c.         Mempunyai kesadaran untuk membantu teman lain.
d.         Dapat diterima dan disenangi siswa yang mendapat program tutor sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
e.          Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
f.           Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan bimbingan yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Dalam penggunaan teman sebaya sebagai teman belajar, tidak lepas dari langkah-        langkah dalam menerapkan pembelajaran tutor belajar. Adapun langkah-langkah,    sebagai berikut:
1)      Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi).
2)      Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.
3)      Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
4)      Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
5)      Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
6)      Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
D.    Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
Pengajaran tutor sebaya ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap pengajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan padat sehingga guru atau tenaga pengajar tak dapat memberikan bantuan individual, bahkan sering tidak mengenal para pelajar seorang demi seorang. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa para siswa menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang menggunakan proses belajar-mengajar yang sama bagi semua siswa tidak akan sesuai bagi kebutuhan dan kepribadian setiap siswa. Maka karena itu perlu dicari sistem pengajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi pengajaran tutor sebaya.
Dalam penggunaan tutor sebaya tidaklah selalu memiliki kelebihan. Penggunaan tutor sebaya ini memiliki kekurangan juga. Agar kita bisa memahami lebih jauh mengenai kekurangan dan kelebihan tutor sebaya mariah simak tulisan berikut.
Adapun kelebihan dan kekurangan penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar sebagai berikut:
1.         Kelebihan penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar.
a)    Meringankan beban guru dalam membelajarkan siswa, terutama bagi guru yang menghadapi kelas gemuk/banyak
b)   Memberikan dampak pengayaan pada siswa yang menjadi tutornya
c)    Komunikasi antar siswa akan lebih efektif terutama dalam mengatasi beberapa kelemahan guru terutama dalam hubungan komunikasi dengan siswa
d)   Bagi tutor sendiri sebagai kegiatan remedial yang merupakan kesempatan untuk pengayaan dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar
e)    Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak siswa dibantu
f)    Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.
2.         Kekurangan penggunaan teman sebaya sebagai sumber belajar.
a)    Siswa yang menjadi tutor berpotensi tidak memiliki keahlian membelajarkan
b)    Kelas berpotensi riuh dan tidak terkendali
c)    Guru berpotensi mengabaikan siswa karna terlalu mengandalkan tutor
d)   Akan berpotensi pada perlakuan yang diskriminatif dimana pada keadaan tertentu justru sangat merugikan bagi efektifitas pembelajaran.
Dengan mengetahui kekurangan serta kelebihan dalam proses pembelajaran tutor sebaya, kita bisa menimbang- nimbang baik buruknya tutor sebaya tersebut. Sehingga dalam penerapannya di kelas bisa lebih efektif dan menghasilkan siswa yang berkelas dan paham akan materi yang disampakan. Siswapun akan mendapatkan pemahaman yang lebih karena dijelaskan oleh temannya sendiri sehingga mereka bebas bertanya pada tutor mereka masing- masing.


E.     Penggunaan Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
            Penggunaan teman sebaya dalam pembelajaran KBM di sekolah memanglah memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun telah kita ketahui bersama jika kelebihan penggunaan teman sebaya ini lebih banyak daripada kekurangannya.
Langkah-langkah model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil ini adalah sebagai berikut.
1.    Pilihlah materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pelajaran di bagi menjadi sub-sub materi (segmen materi).
2.    Bagilah siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.
3.    Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu bab materi. Setiap kelompok di pandu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
4.    Beri mereka waktu yang cukup, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
5.    Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
6.    Setelah kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
Selain hal di atas, berikut ini kita sajikan beberapa tips agar model pembelajaran tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, antara lain adalah:
1)      Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai
2)      Jelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas). Misalnya : agar pelajaran  matematika dapat mudah dipahami
3)      Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai
4)      Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru
5)      Gunakan cara yang praktis
6)      Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan tutor
7)      Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor
8)      Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya
9)      Jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong.


BAB III
PENUTUP

A.   Simpulan
            Berdasarkan uraian sebelumnya,maka penulis dapat menyimpulkan bahwa tutor sebaya adalah salah satu sumber belajar yang efektif selain guru. Penerapan model pembelajaran tutor sebaya dinilai sangat efektif untuk diterapkan dalam upaya meningkatkan aktivitas  dan prestasi belajar siswa.Hal ini disebabkan karena pembelajaran tutor sebaya lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan,baik kebutuhan peserta didik maupun kebutuhan tutor sebaya itu sendiri.Dimana ketika sekelompok siswa mengalami kesulitan dalam belajarnya,maka hal ini dapat diatasi dengan cara melibatkan teman sebayanya,begitupan sebaliknya,tutor sebaya dapat memperkuat apa yang dipelajarinya dengan membantu temannya yang mengalami kesulitan tersebut.
B.   Saran
Semoga tugas  makalah ini dapat diteruskan kepada generasi yang akan datang, karena     banyak manfaat yang didapat selain mahasiswa dapat belajar mandiri dalam menyusun makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik” Edisi Revisi VI, Jakarta: Rineka Cipta
Suherman, E dkk. 2003. “Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer”. Bandung. UPI
Sanjana Wijana.2006.Strategi Pembelajaran Berorientasi standar dan Proses         Pendidikan.Bandung:Prenda Media Grup.
Suriyono.1992.Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA.Jakarta:PT.Rineka Cipta
Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar Proses Pembelajaran Matematika. Bahan Ajar, S1 Program Studi Pendidikan Matematika. Semarang : UNNES
http://tutor_sebaya/2012/01/sandy.blogspot.com.htm (diakses pada tgl 20 Maret 2015)




[1] Arikunto.S, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka Cipta,2006), halmn.98.
[2] Suherman, E dkk. 2003. “Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer”. Bandung. UPI
[3] Laelasar, M.Pd, Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika,(Jakarta:Rineka Cipta, 2005), hlm.18
[4] Sanjaya, Hakikat Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Putra,2007)hlm.247-248
[5] Arikunto.S, Op.Cit., halmn.105

2 komentar:

  1. Maaf mbak, tlg dong di upload suyitno, amin.2004.dasar-dasar proses pembelajaran matematika 1.Semarang:jurusan matematika FMIPA UNNEs

    BalasHapus
  2. Maaf mbak, tlg dong di upload suyitno, amin.2004.dasar-dasar proses pembelajaran matematika 1.Semarang:jurusan matematika FMIPA UNNEs

    BalasHapus